Pada dekade 60-an, kaum Kristen di Indonesia mengambil suatu keputusan yang amat penting, yang merupakan awal kerusuhan politik, dan menjadi konflik Islam-Kristen yang meruncing sampai sekarang ini. Keputusan itu mereka ambil melalui konferensi di Jawa Timur yang intinya adalah : “Pengkristenan Indonesia dalam waktu 50 tahun, dan khusus pulau jawa dalam waktu 30 tahun”.

Dengan keputusan itu, kaum Kristen semakin giat, bahkan dapat dikatakan opensif dalam segala lapangan. Kalau pada zaman Nasakom, komunis memaksakan nasakomisasi (menempatkan orang komunis) disetiap lapangan kehidupan, maka di zaman orde baru melalui rezim Suharto sangat terasa adanya kristenisasi dalam segala lapangan kehidupan dalam masyarakat Indonesia. Dimana – mana mereka mendirikan gereja, tanpa memandang apakah di tempat itu ada orang Kristen atau tidak.

DI Aceh umpamanya, mereka mendirikan gereja padahal tidak seorangpun suku aceh yang beragama Nasrani, maka gereja yang baru saja didirikan itupun dibakar rakyat setempat. Di kota – kota besar bermunculan gereja-gereja dengan angkuhnya, terkadang rumah tinggal dan ruko tiba-tiba sudah berubah menjadi gereja. Bahkan dengan sengaja membakar emosional umat Islam di samping masjid mereka bangun gereja, seperti di Masjid Raya Pulo Asem Rawamangun. Bahkan di asrama mahasiswa Indonesia, yang terletak di jalan Pegangsaan Timur Jakarta, dikala itu tiba-tiba sedah berdiri gereja yang megah di atasnya.

Sebuah sekolah perguruan rakyat yang terletak di belakang Rumah Sakit Kristen St. Carolus harus dibongkar karena RS. Kristen tersebut memerlukan perluasan. Betapapu nkerasnya reaksi dari masyarakat luas untuk tetap mempertahankan sekolah tersebut, apalagi karena sekolah itu mempunyai nilai sejarah dalam pergerakan kemerdekaan, harus diratakan dengan tanah demi kepentingan pelebaran RS.Kristen. Sekali lagi demi perubahan peta politik menuju Kristenisasi yang sudah berjalan mantap di bumi Indonesia, semua jalan harus ditempuh “the end justifies the mean”. Menghalalkan segala macam cara.

Dnega nkeuangan melimpah yang mengalir dari berbagai donatur, mereka mendirikan gereja megah, rumah sakit mewah, mendirikan sekolah-sekolah mulai dari penitipan anak, TK, SD, SMP, SMA dan Universitas dengan fasilitas bangunan yang megah hingga mengalahkan semua bangunan sekolah yang ada termasuk sekolah-sekolah negeri dan rumah sakit pemerintah.

Mereka juga mengadakan gerakan orng tua angkat melalui Organisasi Orang Tua Angkat. Orang Kristen dari Eropa dan Amerika mempunyai anak-anak angkat di Indonesia. Seperti di Belanda, dengan uang 50 gulden per bulan di tahun 1970-an, mereka sudah mempunyai anak angkat di Indonesia. Dan gerakan itu ditujukan untuk membantu sisa-sisa korban dari peristiwa G30 S PKI. Kaum komunis mendapat santunan dari kaum Kristen. Mereka membagi-bagikan sembako secara berkala, bahkan mereka juga mendapatkan tawaran bantuan modal usaha, dengan perjanjian, bahwa mereka harus menjadi Kristen. Dalam keadaan sangat sulit dan terpaksa, para korban G30 S PKI tsb mau tidak mau harus menerima tawaran itu. Tidak cukup dengan membantu mereka, bahkan mereka diracuni dengan provokasi yang menyesatkan, yaitu menstigmasi umat Islam dengan kata-kata : “Kalian adalah korban pembunuhan dari orang-orang Islam”. Dan tidak aneh kalau sekarang naka-anak mereka banyak yang menjadi Kristen Militan.

Dengan peranan dan perencanaan yang sangat matang dari CSIS, DGI, MAWI, dan IGGI kaum Kristen di Indonesia telah berhasil menanamkan kekuasaan di segala sektor kehidupan, baik bidang pemerintahan untuk meraih kekuasaan, orang-orang Kristen juga menduduki posisi-posisi yang penting di masa rezim Orde Baru.

Era Reformasi

Keberhasilan kaum Kristen di zaman Orde Baru membuat kelompok minoritas ini menjadi pongah, mereka lebih loyal pada Vatikan, Eropa Barat dan Amerika. Kita sadar, lepasnya Timor Timur dari Indonesia tidak menafikan adanya peran dari aktor-aktor Kristen. Dengan tuduhan pemerintah Indonesia melakukan pelanggaran HAM berat. Pemerintah terpojok oleh propaganda Kristen yang telah menguasai gerakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Nampaknya, untuk Indonesia Timur mereka terus berusaha melakukan apa yang pernah mereka lakukan di Timor Timur. Kasus Poso, Ambon, Irian Jaya yang terus menghangat, tidak lebih dari makar busuk yang sedang mereka lakukan, karena mustahil kasus Tibo cs yang kriminal, dan tindakannya yang membunuh ratusan umat Islam di Pesantren Walisongo dianggap pahlawan, pembelaan yang dilakukan oleh para aktivis gereja dan Vatikan adalah sebagai tindakan arogansi. Termasuk ketika Paus Benedictus XVI menyurati presiden SBY terkait kasus eksekusi Tibo cs. Padahal tindakan Tibo cs jelas-jelas kriminal, sadis dan biadab.

Kronologi Kejahatan Tibo cs

Bagi pembunuh, seharusnya dikenai hukum qishas. Namun, jika dengan alasan negara atau siapa pun sebagai penegak hukum tidak berhak mengambil nyawa orang lain, sehingga hukuman mati harus dicabut atas Tibo cs. Orang bertanya,: Siapa yang memberi hak kepada Tibo cs untuk membunuh lebih dari 100 santri pesantren Wali Songo di Poso, lima tahun lalu?

Sekedar mengingatkan, betapa biadab dan sadisnya pasukan merah Kristen pimpinan Fabianus Tibo, kita lihat kronologi tragedi Poso yang direkam Forum Silaturahim dan Perjuangan Umat Islam Poso.

Sabtu, 20 Mei 2000

Seorang pemuda muslim dari desa Kelei, Anton Dunggio berhasil meloloskan diri dari massa merah (Kristen) dan menginformasikan tiga hari lagi akan ada penyerangan besar-besaran oleh pasukan merah dari Tentena. Namun, informasi tersebut dinilai provokasi, dan Anton dituduh provokator kemudian diangkap atas perintah Wakapolres Poso, Jhony Siahaan.

Senin, 22 Mei 2000

Pukul 19.30 Waktu Indonesia Timur, atas inisiatif Kapolres Poso, diadakan pertemuan antar unsur pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat dan agama, untuk membicarakan situasi Poso. Jam 23.30-24.00 Muspika Kota Poso, mengumumkan melalui kendaraan dan berkeliling kota Poso, bahwa tidak akan ada penyerangan dari massa Kristen, dan kepada warga Muslim kota Poso, diminta tenang.

Selasa, 23 Mei 2000

Sejumlah kendaraan berisi pasukan merah Kristen, dengan memakai baju, celana hitam dan ikat kepala merah, hilir mudik sambil berteriak dan mengacungkan senjatanya melewati desa Sintuwulemba. Konvoi pasukan itu sebagian diturunkan di desa Tagulo dan sebagian di desa lain. Dini hari, sekitar jam 03.00 datang pasukan Kelelawar Merah berpakaian ala Ninja, dan Serma Kamarudin Ali tewas ditebas pasukan Kelelawar. Pada waktu yang sama, kakek Muslim Kayamanya dibantai, ketika menuju masjid untuk sholat subuh da nAbdul Syukur lehernya di tebas di Serambi Masjid Moengko.

Massa Putih (Islam) mengejar Pasukan Kelelawar Merah pimpinan Cornelius Tibo alias Fabianus Tibo yang bersembunyi di kompleks Gereja Katholik Moengko. Apart keamanan yang dibantu beberapa orang warga muslim berhasil menagkap Tibo cs. Negosiasi dilakukan ketika itu antara Tibo cs dengan aparat. Sebagai jubir pasukan Kelelawar Merah, Tibo mengatakan siap menyerahkan diri. begitu juga seluruh anggota pasukannya akan menyerahkan diri kepada pihak berwajib, dengan syarat mereka mendapatkan jaminan keamanan aparat sepenuhnya dari peradilan massa atas dirinya dan kelompoknya.

Usai pertemuan, Tibo beranjak dari tempat itu, konon ia minta ijin keluar untuk memanggil seluruh pasukannya guna menyerhakan diri kepada pihak berwajib, dan apartpun percaya saja. Tanpa meminta kesepakatan kepada kelompok kaum muslimin. Nah momentum itulah yang digunakan Tibo untuk melarikan diri, mengkhianati janjinya sendir, lalu menghilang ditengah-tengah semak belukar, tepatnya dibelakang gereja santa Theresia Kelurahan Moengko.

Rabu, 24 Mei 2000

pukul 06.30 terjadi penyerangan Pasukan Merah terhadap warga muslim Sayo, yang mengakibatkan tewasnya Aswin. Pukul 10.000 sebagian pasukan Merah yang kembali dari Togaluke Tentena, dan melepaskan anak peluncur sebanyak empat kali ke arah pesantren Wali Songo, dan melepaskan tembakan senapan angin ke rumah pak sarimah warga Muslim. Pada waktu yang hampir bersamaan di Togalu dan Situwulemba KM. 9 telah terjadi pembantaian dan penyanderaan warga msulim yang dilakukan oleh pasukan merah Kristen.

Pukul 18.30 Pasukan Merah Kristen, melemparkan bom molotov dua kali ke rumah Pak Ahmadi warga Muslim Situwulemba. Sore itu sekitar 1000 oang berpakaian ala ninja merah dengan persenjataan lengkap melakukan pengrusakan san pembakaran rumah-rumah pendudukan di Desa Toyado dan Labuan. Dua orang warga muslim syahid setelah dibakar hidup-hidup oleh pasukan Kristen, dan salah satu korban bernama Rafik Pakaya.

Kamis, 25 Mei 2000

Keluarga Besar Wali Songo memasang rintangan jalan. Setiap kendaraan yang lewat di stop untuk menyampaikan pesan agar mereka jangan mengganggu masyarakat muslim Sintuwulemba dan Pesantren Wali Songo. Terjadilah ketegangan antara Pasukan Merah dengan warga muslim Sintuwulemba dan Pesantren Wali Songo. Akhirnya camat Lage Drs. Minto Ida dan Kapolsek Lage JP.Londa membuat kesepakatan dengan Ustadz Sahudin mewakili Pesantren Wali Songo, yang dihadiri oleh Dominggus mewakili Pasukan Merah, Sudarso Panyipto mewakili Kristen Sintuwulemba dan beberapa tokoh masyarakat Muslim lainnya, dengan menghasilkan beberapa kesepakatan perjanjian antara lain : 1. Rintangan jalan depan pintu gerbang Pesantren Wali Songo harus dihilangkan. 2. Pasukan Merah tidak akan mengganggu warga Muslim Sintuwulemba dan Pesantren Wali Songo.

Jum’at, 26 Mei 2000

Camat dan Kapolsek Lage melarang warga Muslim di desa Sintuwulwmba dan Pondok Pesantren Wali SOngo mengungsi dengan alasan tidak akan terjadi apa-apa dan mereka memberikan jaminan keamanan. Pasukan merah menyerang desa Sintuwulemba dan membantai seluruh warga Muslim yang ditemui. Lebih dari 70 pengurus dan santri Pondok Pesantren Wali Songo dibantai oleh pasukan Merah di dalam masjid. Pasukan merah menebangi pohon di jalan untuk menghambat bantuan pasukan TNI/POLRI dari Makassar dan warga muslim dari Mangkutana dan Bungku.

Sabtu, 27 Mei 2000

Di Tentena, rumah-rumah warga muslim dibakar. Massa dari desa Sanginora yang dipimpin ileh Guntur S.Tarinje, mendatangi kantor kecamatan Poso Pesisir dan dihadiri oleh pemuka-pemuka masyarakat Islam setempat. Dalam pertemuan tersebut disepakati memorandum of understanding yang memuat ikatan perjanjian debagai berikut :

Pertama, pihak Kristen tidak akan saling menyerang dengan pihak muslim di seluruh Poso Pesisir. Adapun perseteruan yang terjadi dalam kerusuhan Poso cukup menjadi persoalan di Poso kota, tidak perlu merambat sampai ke Poso Pesisir. Kedua, semua rintangan di jalan raya yang menghambat kelancara n lalu lintas dan mobilitas umum agar disingkirkan serta dibersihkan sebagaimana keadaan dan kondisi sebelumnya. Ketiga, pasukan kelompok merah yang tidak bermusuhan dengan warga muslim Poso Pesisir tidak boleh saling mengganggu.

Warga muslim mematuhi perjanjian tersebut. Pembersihan jalan Raya sudah dilaksanakan, dimulai dari desa Tabalu, Ratolene, Bega, Patirobajo, Mapane, Toini, Tolana, Landangan, Tonipa. Bahkan sampai kelurahan Moengko dan Kayamanya.

Tetapi karena pihak Kristen mengkhianati perjanjian tersebut akibatnya fatal. Pasukan merah leluasa menghajar saudara mereka, umat Islam yang berada di Poso Kota. Camat Lage, Drs, Mito Ida, Kapolsek Lage JP. Londa dan Babinsa Kec. Lage Serka Darmo mendatangi pesantren Wali Songo untuk meminta agar Wali Songo menyerahkan HT (handy talky), senjata-senjata tajam warga muslim Sintuwulemda dan alat-alat las serta meminta agar warga muslim Sintuwulemba dan Wali Songo tidak balas menyerang meskipun kemarin telah dipeluncur dan dilempar bom molotov warga Kristen.

Minggu, 28 Mei 2000

Mobil-mobil truk beriringan dari arah Napu membawa ribuan pasukan Merah ke arah Kec. Poso Pesisir. Sekitar pukul 08.000 Pasukan Merah mulai melakukan penyerangan, pembunuhan dan pembakaran rumah-rumah warga msulim di desa Tabalu, Ratulene, Mapane, Bega, patiro bajo, Saatu, Pinedapa, Masani, Tokorondo, Tiwa, Kilo dan Kalora. Pukul 10.000 pesantren Wali Songo diserang. Kemudian mereka mengepung desa Sintuwulembda dari segala penjuru. Warga muslim Sintuwulemba yang masih berada di sana berusaha melakukan perlawanan seadanya karena tidak menduga, pasukan Merah akan menyerang seperti itu. Bukankah sebelumnya sudah ada jaminan dari aparat?

Warga muslim Sintuwulemba bersama sebagian kecil warga Wali Songo terpukul mundur kemudian Ustadz Sahudin mengibarkan bendera kain putih di Masjid Al Hijrah Sintuwulemba, setelah dijanjikan oleh Pasukan Merah apabila mereka (warga muslim) menyerah dan melepaskan senjata tajamnya dijamin aman. Pasuka Merah ingkar janji. Para pengkhianat itu melucuti senjata tajam warga muslim. Setelah itu, Pasukan merah membantai dengan menebas leher warga muslim yang telah terkurung di dalam masjid Al-Hijrah Sintuwulemba dan mencincang-cincangnya baik yang keluar masjid, maupun di tempat-tempat lain dimana saja mereka dapati warga muslim di desa itu. Sebagian pasukan Merah membakar rumah-rumah penduduk warga muslim hingga ludes, kecuali rumah-rumah orang Kristen Sintuwulemba. Korban yang tewas dan yang masih hidup semua diangkut dengan truk entah dibawa kemana.

Menyikapi situasi yang terus kisruh dan meruncing dalam kehidupan antar umat beragama, umat Islam harus tegas dan bijak, bahwa kebiadaban dan pengkhianatan atas janji, agaknya menjadi karakteristik laskar merah Kristen. Orang-orang kristen terbiasa memaksakan kehendak pada negara dengan melanggar hukum, menodai keadilan, dan melukai nurani mayoritas umat Islam di negeri ini. Tidakkah kita berfikir untuk selalu waspada dan berhati – hati atas segala propaganda dan tipu daya musuh-musuh Allah? Jika kamu menolong agama

Allah, pasti Allah juga akan menolong kamu. (Ahmad Salimin Dani/Lentera Da’wah)

=======KISAH USTADZ PESANTREN WALI SONGO YANG SELAMAT DARI PEMBANTAIAN=======

Kisah Pengasuh Ponpes Wali Songo Poso Yang Selamat Diikat dan Disiksa, Lolos Lewat Sungai

Kasus pertikaian di Poso tidak hanya membawa korban dan kerugian materil, tapi juga menjadi beban masyarakat lain yang tidak berdosa. Berikut cerita yang disajikan dalam gaya bertutur dari dua pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo, Ilham (23) yang selamat dari penyanderaan, setelah Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Songo dibumihanguskan.

PADA saat itu hari Kamis (1/6) kami masih berada di hutan bersama adik-adik (santri, red) yang lain. Setelah ditangkap, mereka memisahkan kami. Perempuan jalan terus, sedangkan kami disuruh tetap tinggal di hutan.

Setelah adik-adik santri dan ibu-ibu pergi, kami semua disuruh buka baju. Tangan kami diikat satu per satu. Jumlah kami saat itu ada 28 orang, menurut hitungan mereka (penyandera, red). Terdiri dari enam orang dari pesantren dan penduduk biasa.

Setelah diikat dengan tali nilon, kabel atau sabut kelapa, kami digandeng tiap lima orang. Saya sendiri diikat tiga ikatan. Kami digiring jalan melewati hutan, tembus di suatu desa Lembomao. Di sana kami berhenti sebentar. Mereka kayaknya memanggil pemimpinnya. Saat itu juga pemimpinnya keluar dan memerintahkan anggotanya untuk membawa.

Kami digiring lagi berjalan melewati jembatan gantung tembus di desa Ranononcu, terus dibawa ke Baruga. Di sana kami disiksa dalam keadaan berdiri, berbanjar membuat dua barisan. Setelah itu tangan kami ditambah ikatannya. Saya sendiri diikat dengan tali sabut kelapa kemudian ditambah dengan tali nilon warna biru, kemudian diikat dengan kabel.

Setelah itu kami disiksa dengan begitu sadis. Badan kami diiris-iris, ditendang, dipukul, pokoknya sudah segala macam penyiksaan, ada yang dipukul dengan gagang pedang, ada yang dengan popor senjata. Saya sudah tidak tahu lagi dengan alat apa semua yang mereka gunakan memukul kami.

Setelah disiksa mereka mengeluarkan pertanyaan kepada kami. pertanyaan pertama. Siapa yang tahu mengaji? Pertanyaan kedua siapa guru mengaji? Dan yang ketiga, siapa yang pernah naik mimbar, dan pertanyaan keempat, siapa yang imam. Pada saat itu, kami tidak ada yang mengaku.

Setelah disiksa, badan-badan kami diiris dan setelah ditaruh tanah, disiram air panas. Sekitar kurang lebih dua jam kami disiksa di tempat itu, kami dinaikkan ke mobil. Mereka tujukan ke arah atas. Menurut pengamatan kami saat itu ke arah Desa Togolu. Sampai di situ mereka giring ke pinggir kuala Poso.

Sampai di pinggiran kuala kami disuruh turun. Saya sendiri loncat dari mobil tersebut. Saya melihat teman saya sudah dibacok satu orang. Dan saat itu, saya langsung mengambil keputusan, berlari menuju kuala tersebut yang jaraknya kurang lebih 10 meter.

Sebelum kami turun dari mobil, mereka sudah berdiri untuk menjaga kami di pinggir kuala tersebut. Yang anehnya bagi saya. Mungkin sudah gerakan Allah, pada saat saya lari di antara mereka tidak ada yang bergerak.

Sekitar satu meter lagi dari pinggiran kuala, saya sudah terjun. Dan tiba-tiba ikatan yang mengikat tangan saya terlepas. Setelah saya terjun ke kuala baru mereka mengambil gerakan. Ada yang menembak, tapi alhamdulillah -saya berenang, muncul lagi untuk mengambil nafas sedikit, mereka menembak lagi. Menyelam lagi saya, sampai waktunya sekitar satu menit, baru saya sampai ke seberang kuala, dalam kondisi badan saya yang sudah teriris-iris.

Setelah saya sampai, saya langsung naik ke daratan. Lari ke hutan. Saya perkirakan dan melihat mereka tidak kelihatan lagi, saya balik ke kuala . Saya masuk melebur kembali mencari tempat yang aman – mendapatkan pinggir kuala, ada rumput yang menutup. Saya masuk di semak-semak rumput tersebut. Badan saya setengah dalam air, setengah di atas.

Dan saat itu mereka mengadakan pencarian pada saya. Mereka lewat, saya lihat mereka. Tetapi mereka tidak melihat saya. Pada saat itu waktunya, saya perkirakan jam 04.00 sore. Sekitar dua jam saya merendam di kuala, untuk menunggu waktu malam.

Setelah malam, saya naik ke darat untuk mengambil alat renang. Saya cabut pohon pisang. Setelah saya cabut, saya langsung buang ke kuala, saya gunakan untuk membantu berenang.

Baru sekitar 10 meter saya berenang, mereka sudah hadang di depan dengan senternya yang begitu terang. Saya melihat senter mereka itu seperti senter mobil. Jadi tidak mungkin pakai baterei, mungkin sudah memakai accu (aki, red) atau alat canggih lain.

Pada saat itu saya lepaskan pohon pisang yang saya pakai. Saya menyeberang kembali, mendekati kembali pinggiran kuala tersebut. Setelah itu tiba-tiba saya lihat ada tiga orang yang lewat kuala. Mungkin teman-teman saya, yang masih ada di hutan, yang belum tertangkap pada saat itu. Dan alhamdulillah, tiga orang lewat itu lolos.

Kemudian lewat lagi tiga orang naik perahu, dan ini kelihatan oleh pengejar. Mereka langsung mengejar dengan perahu pula. Dua yang lolos pada saat itu. Satu orang tertangkap. Dia berteriak-teriak “Saya tidak salah”. Kedengarannya mereka menyiksa. Dan pada saat itu tiba-tiba terdengar suara letusan. Dan teriakan itu langsung lenyap.

Setelah itu, saya berpikir, berarti saya ini akan tertangkap juga kalau saya teruskan untuk berenang. Saya ke darat dan duduk berdoa. Ya Allah turunkan lah hujan, ya Allah. Supaya mereka menghindar dari pinggiran kuala tersebut.

Dalam kurun waktu kurang lebih setengah jam, yang awalnya bintang-bintang lengkap di langit. Tiba-tiba gelap dan langsung turun hujan. Setelah hujan turun, saya berlari ke atas sekitar 20 meter. Kemudian saya masuk lagi ke dalam kuala, dan saya lanjutkan berenang.

Dalam jarak 10 meter lagi saya berenang ke bawah, ada lagi mereka yang menghadang di depan. Saya naik lagi ke daratan. Duduk saya di daratan berkisar kurang lebih satu jam. Badan saya kayaknya sudah tak mampu lagi digerakkan, dengan merasakan luka, kedinginan. Rasanya badan saya sudah tidak bisa lagi bergerak.

Pada saat itu, saya berpikir. Kalau siang di sini, saya sembunyi dimana lagi. Setelah pemikiran itu muncul kepasrahan, saya berdoa: bismillahi tawaqqaltu alallahi la haula wala quwata illah billah. Saya berdiri, lalu mencari alat bantu renang lagi. Alhamdulillah, saya ketemukan satu biji kelapa kering. Saya bawa kembali ke kuala.

Setelah saya masuk, melebur kembali ke kuala, rasanya badan ini sudah kuat kembali. Tangan dan kaki saya, yang semula sudah tidak mampu digerakkan, setelah saya melebur ke kuala, badan saya terasa pulih kembali. Kayaknya tidak ada luka yang melekat.

Setelah itu saya berenang sampai melewati pinggir kuala tersebut. Setiap pinggiran kuala tetap juga mereka jaga. Tetapi sudah tidak terlalu ketat. Karena hujan turun terus.

Saya temukan jembatan yang saya lewati pertama pada saat kami menuju di desa Ranononcu itu. Mereka berjaga di jembatan itu, alhamdulillah saya masih sempat lolos. Kemudian terus lagi, menemukan lagi jembatan satu. Yang pertama jembatan gantung Ranononcu dan yang kedua jembatan gantung Lembomawo.

Setelah itu, saya terus lanjutkan berenang. Dan apabila mereka mencari, menyenter dari sebelah, saya menghindar, menyeberang ke sebelah. Jadi, saya memotong-motong kuala Poso itu, yang jaraknya, yang disebut orang sering ambil korban manusia, ada buaya kayaknya sudah tidak lagi saya pikirkan.

Setelah itu, saya tiba di jembatan II Poso, yang direncanakan untuk dijadikan “kriminal dua”. Setelah mendekati jembatan tersebut, saya melihat pancaran cahaya. Lampu mereka begitu terang. Mereka memakai lampu sorot. Mereka pancarkan ke kuala tersebut. Kualanya terang sekali. Jadi apapun yang lewat, kayu sepenggal pun yang lewat, kelihatan dalam kuala tersebut. Tetap saya terus dan berhenti di jembatan tersebut.

Saya berhenti di bawah jembatan dan berdiri serta duduk bergantian sambil berpikir, bagaimana caranya bisa lolos. Sedangkan kuala ini terang sekali. Berpikir saya di situ sekitar satu jam. Bagaimana caranya, tidak ada hasil. Kayaknya, secara jernih saya tidak mampu lagi untuk berpikir, bagaimana caranya untuk lolos.

Setelah itu, saya terpikir dalam satu firman “Jangan takut Allah bersama kita”. Saya membaca doa bismillahi tawaqqaltu alallahi la haula wala quwata illah billah. Segala daya dan kekuatan saya serahkan kepada Allah sepenuhnya. Muncul keyakinan saya pada saat itu, saya langsung meloncat berenang ke kuala.

Setelah saya mendekati lampu tersebut, tiba-tiba lampunya langsung mati. Saya berpikir jangan-jangan saya dijebak, dengan sengaja mematikan senter, agar saya terus berenang.

Dan setelah melewati tempat terang tersebut baru lampunya menyala. Tidak tahu mengapa lampu mereka mati. Berarti mereka sebenarnya bukan menjebak saya. Tetapi memang benar lampunya mati pada saat itu. Mungkin sudah digariskan oleh Allah. Sudah memberikan pertolongan pada saat itu kepada saya.

Sebagai manusia biasa, yang sudah luka parah, muka saya sudah hancur dipukul, mungkin tidak bisa melanjutkan perjalanan. Tapi kekuatan yang ada, saya melanjutkan berenang melewati jembatan dan tiba-tiba saya mendengar suara azan. Berarti menandakan waktu subuh atau pagi telah tiba. Saya makin cepat berenang sebelum terang, karena kalau sudah siang mereka akan temukan saya.

Sekitar pukul 6 pagi saya mendengar suara pengumuman yang menyebutkan nama kompi. Saya berpikir bahwa itu adalah asrama tentara dan langsung mendekati. Di dekat lokasi asrama saya melihat seorang pemuda dan saya tanyakan asalnya. Saya juga tanya mengapa ada disini dan pemuda itu mengatakan dirinya pengungsi. Saya tanya lagi agamamu apa, dan dia menjawab agama Islam. Disaat dia menjawab Islam, saya langsung mengatakan tolong, dan dia pun langsung menolong saya membawa ke asrama kompi dan dirawat. Pada saat disiksa, saya melihat seorang aparat tentara yang juga saya sudah pernah lihat sebelumnya. Waktu di kompi saya juga melihat tentara itu, kami sempat berpapasan mata kemudian tentara itu langsung pergi. Saya periksa di semua ruangan tentara itu tidak ada. Saya yakin dia adalah tentara yang saya lihat ketika saya disiksa. (ud/jpnn)

Source : Riau Pos Rabu, 14 Juni 2000

========MAYAT RATUSAN MUSLIM DITEMUKAN========

Sudah Ratusan Mayat Muslim Berhasil Ditemukan

Jakarta, LaskarJihad.or.id (26/12/2001)Selama kurun waktu Mei 2000 hingga awal Desember 2001 Tim Evakuasi Pencari Fakta Korban Muslim Kerusuhan Poso berhasil mengevakuasi 840 mayat umat Islam korban konflik agama di Poso. Mereka ditemukan dari berbagai lokasi yang berbeda.

“Korban tewas terakhir yang kami temukan tiga warga Toyado yang diculik awal Desember tahun ini,” kata Koordinator Tim Evakuasi Pencari Fakta Korban Muslim Kerusuhan Poso, Jabar As-Salam kepada Antara di Palu, Senin (24/12).

As-Salam mengatakan pihaknya menduga mayat umat Islam korban kerusuhan di Poso yang sudah berlangsung tiga tahun itu masih banyak yang belum ditemukan. Ini karena lokasi bentrokan kedua kubu yang bertikai relatif cukup luas dan sporadis.

“Apalagi masih banyak laporan masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya dan belum berhasil kami pecahkan kasusnya,” katanya, seraya menambahkan laporan tersebut jumlahnya mencapai ratusan orang.

Lokasi penemuan mayat oleh tim evakuasi muslim Poso antara lain Sungai Poso, rawa-rawa dan pinggiran hutan di sekitar kota Poso. Umumnya kondisi mayat yang ditemukan mengenaskan, antara lain kepala hilang dan tubuh disayat-sayat. As-Salam mengatakan pihaknya akan terus melancarkan pencarian mayat umat muslim dengan sasaran operasi semua lokasi yang dicurigai sebagai tempat pembantaian yang dilakukan kelompok lawan.

“Kami akan terus melakukan pencarian mayat umat muslim korban pembantaian di Poso hingga semuanya ditemukan,” ujarnya.

Laporan korban meninggal dunia versi pemerintah setempat yang ditemukan hingga tanggal 5 Desember 2001 sebanyak 577 orang (lima di antaranya PNS), luka berat 245 dan luka ringan 139. Bangunan yang terbakar terdiri atas 83 unit rumah ibadah (masjid, gereja dan pura). Sedangkan rumah penduduk yang terbakar 7.932 unit, rusak berat 1.378, rusak ringan 690, dan fasilitas umum yang terbakar/rusak berat maupun ringan 510 unit. Taksiran sementara kerugian materil akibat konflik ini sudah mencapai Rp 300 miliar.(RoL)

Copyright © 2001 Laskar Jihad